Setiap manusia memiliki bermacam-macam kebutuhan, baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan pelengkap. Kebutuhan pokok setiap orang tidaklah sama antara satu orang dengan orang lain, tergantung dari pengaturan dan penyesuaian kebutuhan yang telah direncanakan. Orang tua pastilah berbeda kebutuhannya dibandingkan dengan anak-anak, laki-laki jelas berbeda kebutuhannya dengan perempuan, orang yang tinggal di pedesaan mungkin lebih sedikit kebutuhannya dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Inti dari semua kebutuhan itu adalah bagaimana kebutuhan itu dapat tercukupi dan bisa bermanfaat dalam jangka panjang bagi diri sendiri atau orang lain.
Kebutuhan yang harus dipenuhi kadang bukanlah kebutuhan yang memang harus dipenuhi, tidak jarang kebutuhan itu hanyalah sebuah keinginan yang didasari oleh nafsu. Ada perasaan yang bermain disana, misalnya kita merasa malu jika tetangga memiliki mobil mewah berharga milyaran rupiah sementara kita hanya memiliki mobil dengan harga puluhan juta rupiah saja. Gengsi, itulah kata yang sering terngiang di telinga kita. Berbagai upaya kita lakukan demi mendapatkan mobil seperti tetangga kita itu, meminjam kepada Bank misalnya dengan bunga tinggi yang memotong gaji kita sehingga ada kebutuhan lain yang tidak tercukupi. Tetapi ketika kita mau merenung, sebenarnya untuk apa kita punya mobil mewah itu? Ini pertanyaan yang penting, kalau ditinjau dari kegunaannya mungkin hanya sederhana. Kita perlu mobil agar perjalanan yang jauh dapat diperpendek waktu tempuhnya, wisata bersama keluarga besar dapat dilakukan, mengantar anak pergi ke sekolah, atau bahkan mengantar paket barang jualan jika kita seorang pebisnis. Apakah ada korelasinya antara menggunakan mobil mewah lebih baik daripada mobil murah? Tentunya mobil mewah membutuhkan biaya operasional dan perawatan dengan biaya yang lebih mahal daripada mobil murah.
Kita mungkin terjebak pada hegemoni sikap yang konsumtif seperti saat ini, dimana gengsi, malu, iri menjadi kebiasaan kita. Jika sudah terlanjur, apakah sudah terlambat untuk kembali ke jalan yang benar? Jawabannya belum terlambat, kita harus mengevaluasi dan menganalisa kembali kebutuhan kita yang sebenarnya. Mulailah dari yang pokok dulu, kebutuhan pangan, sandang, papan, kendaraan, pendidikan, kesehatan, jaminan hari tua / asuransi, dan hiburan. Kita beri peringkat mana yang nomor satu, dua, tiga, dan seterusnya. Misalnya, pangan adalah kebutuhan yang pertama dan harus dipenuhi. Kalau kita terbiasa makan dari makanan pasta, cepat saji dan tentu berharga mahal maka kita harus merubah kebiasaan ini menjadi makan makanan yang sehat, alami dan pasti harganya jauh lebih murah. Tujuannya sama, yaitu kebutuhan akan energi bagi tubuh kita terpenuhi, dan lagi ketika kita makan makanan yang sehat, tubuh kita ikut sehat dan kantong kitapun ikut sehat,untung kan? Itu hanya salah satu contoh, ada lagi misalnya kendaraan yang tadinya mengguankan mobil mewah berharga milyaran kita ganti dengan mobil yang berharga puluhan juta rupiah saja.
Kebutuhan yang harus dipenuhi kadang bukanlah kebutuhan yang memang harus dipenuhi, tidak jarang kebutuhan itu hanyalah sebuah keinginan yang didasari oleh nafsu. Ada perasaan yang bermain disana, misalnya kita merasa malu jika tetangga memiliki mobil mewah berharga milyaran rupiah sementara kita hanya memiliki mobil dengan harga puluhan juta rupiah saja. Gengsi, itulah kata yang sering terngiang di telinga kita. Berbagai upaya kita lakukan demi mendapatkan mobil seperti tetangga kita itu, meminjam kepada Bank misalnya dengan bunga tinggi yang memotong gaji kita sehingga ada kebutuhan lain yang tidak tercukupi. Tetapi ketika kita mau merenung, sebenarnya untuk apa kita punya mobil mewah itu? Ini pertanyaan yang penting, kalau ditinjau dari kegunaannya mungkin hanya sederhana. Kita perlu mobil agar perjalanan yang jauh dapat diperpendek waktu tempuhnya, wisata bersama keluarga besar dapat dilakukan, mengantar anak pergi ke sekolah, atau bahkan mengantar paket barang jualan jika kita seorang pebisnis. Apakah ada korelasinya antara menggunakan mobil mewah lebih baik daripada mobil murah? Tentunya mobil mewah membutuhkan biaya operasional dan perawatan dengan biaya yang lebih mahal daripada mobil murah.
Kita mungkin terjebak pada hegemoni sikap yang konsumtif seperti saat ini, dimana gengsi, malu, iri menjadi kebiasaan kita. Jika sudah terlanjur, apakah sudah terlambat untuk kembali ke jalan yang benar? Jawabannya belum terlambat, kita harus mengevaluasi dan menganalisa kembali kebutuhan kita yang sebenarnya. Mulailah dari yang pokok dulu, kebutuhan pangan, sandang, papan, kendaraan, pendidikan, kesehatan, jaminan hari tua / asuransi, dan hiburan. Kita beri peringkat mana yang nomor satu, dua, tiga, dan seterusnya. Misalnya, pangan adalah kebutuhan yang pertama dan harus dipenuhi. Kalau kita terbiasa makan dari makanan pasta, cepat saji dan tentu berharga mahal maka kita harus merubah kebiasaan ini menjadi makan makanan yang sehat, alami dan pasti harganya jauh lebih murah. Tujuannya sama, yaitu kebutuhan akan energi bagi tubuh kita terpenuhi, dan lagi ketika kita makan makanan yang sehat, tubuh kita ikut sehat dan kantong kitapun ikut sehat,untung kan? Itu hanya salah satu contoh, ada lagi misalnya kendaraan yang tadinya mengguankan mobil mewah berharga milyaran kita ganti dengan mobil yang berharga puluhan juta rupiah saja.
Tidak ada kata terlambat untuk berubah, hanya niatan dan kemauanlah yang dapat membawa kita menuju puncak kejayaan dan puncak kedewasaan dalam berpikir, bertindak serta memutuskan yang terbaik untuk kita. Selamat mencoba, dan semoga sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar